
Samuel Eto’o, Presiden Federasi Sepakbola Kamerun (FECAFOOT), dijatuhi sanksi larangan bermain atau bertugas selama empat pertandingan karena dugaan perilaku tidak pantas saat tim nasional Kamerun kalah dari Maroko di Piala Afrika. Keputusan ini juga disertai denda sebesar 20.000 dolar AS yang dikeluarkan oleh Komite Disiplin Konfederasi Sepakbola Afrika (CAF). Meskipun begitu, FECAFOOT menyatakan bahwa mereka tidak menerima penjelasan yang jelas mengenai dasar keputusan tersebut.
Federasi tersebut mengkritik proses cepat yang dilakukan oleh CAF, yang dianggap menimbulkan keraguan terkait prinsip keadilan. Mereka menekankan bahwa prosedur yang terburu-buru ini menimbulkan pertanyaan serius tentang apakah Eto’o mendapatkan peradilan yang adil dan transparan dalam pengambilan keputusan. FECAFOOT menegaskan bahwa dukungan terhadap presidennya tetap kuat dan mereka tetap berkomitmen pada prinsip keadilan disipliner yang kredibel.
CAF sebelumnya membuka penyelidikan terkait insiden-insiden dalam pertandingan perempat final Piala Afrika, termasuk laga antara Kamerun dan Maroko, serta antara Aljazair dan Nigeria. Meskipun tidak menyebutkan insiden spesifik, perhatian publik tertuju pada tindakan Eto’o yang terlihat melakukan gestur marah terhadap pejabat Maroko, Fouzi Lekjaa, di dekatnya CAF President Patrice Motsepe. Gestur tersebut menjadi sorotan utama dalam laporan media dan menjadi dasar sanksi yang dijatuhkan.
Kasus ini menimbulkan perdebatan luas di dunia sepakbola Afrika, dengan sebagian pihak menilai tindakan CAF terlalu cepat dan kurang transparan, sementara pihak lain menekankan pentingnya menjaga disiplin dalam turnamen besar. FECAFOOT berupaya menegaskan posisi mereka bahwa Eto’o tetap didukung penuh, sekaligus menyerukan agar prosedur disipliner dilakukan secara adil dan sesuai prinsip hukum yang berlaku di tingkat kontinental.